Logo Desa

Desa Pohgading Timur

Kabupaten Lombok Timur
Provinsi Nusa Tenggara Barat

Loading

Desa Pohgading Timur

Perayaan

Hari Sumpah Pemuda

  • Hari
  • Jam
  • Menit
  • Detik
Info
Selamat datang di Website Resmi Desa Pohgading Timur Kecamatan Pringgabaya Kabupaten Lombok Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat

Berita Desa

Komentar Terbaru

Kategori

Opini: "Pancasila Hidup di Desa: Menjaga Kearifan Lokal, Merawat Persatuan"

Oleh: Salman Al Parisi (Kadus Bagek Kembang)


"Kalau Islam, jangan jadi orang Arab. Kalau Kristen, jangan jadi orang Barat. Kalau Hindu, jangan jadi orang India. Jadilah orang Indonesia yang beragama."
Begitulah pesan luhur Bung Karno, yang menegaskan bahwa menjadi religius tidak berarti kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia. Kita boleh beragama dengan sepenuh keyakinan, tetapi tetap membumi dalam kebudayaan kita sendiri.

Saat ini, kita menyaksikan fenomena yang mengkhawatirkan: banyak yang begitu sibuk memuji golongan sendiri dan merendahkan golongan lain, bahkan sampai mengkafirkan sesama muslim hanya karena perbedaan cara beribadah atau penampilan. Padahal, esensi Islam bukanlah pada pakaian, penampilan luar, atau simbol semata, melainkan pada hati yang bersih dan niat yang lurus.

Nabi Muhammad SAW bersabda:
"Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan hartamu, tetapi Allah melihat hati dan amal perbuatanmu."
(HR. Muslim)

Ini menunjukkan bahwa kemuliaan seseorang di hadapan Allah bukan diukur dari jubah, gamis, surban, atau sejenisnya. Sebab kalau hanya soal pakaian, Abu Jahal dan Abu Lahab pun mengenakan jubah dan surban, namun keduanya justru termasuk musuh terbesar dakwah Islam. Islam tidak identik dengan Arab, dan tidak otomatis menjadi lebih Islami hanya karena meniru bentuk luarnya.

Kita sebagai bangsa Indonesia punya budaya dan kearifan lokal yang tidak kalah luhur. Selama pakaian itu sopan, menutup aurat, dan tidak mengundang fitnah, maka itu sudah mencerminkan akhlak Islam. Bahkan Umar bin Khattab pernah berkata, “Sesungguhnya orang yang paling aku cintai adalah yang ketika dilihat membuatku ingat kepada Allah.” Maka, Islam itu bukan sekadar gaya, tapi pancaran dari akhlak dan adab.

Desa-desa di Indonesia adalah contoh nyata bagaimana nilai-nilai Islam dan Pancasila menyatu dalam kehidupan sehari-hari. Warga desa bergotong royong tanpa memandang mazhab, bertegur sapa dengan ramah, dan menjaga tradisi lokal yang sejalan dengan nilai-nilai Islam dan kemanusiaan. Inilah bukti bahwa Islam Nusantara, yang berpijak pada kearifan lokal, bukanlah bentuk pelemahan agama, tapi justru penguatan akarnya agar tetap relevan di bumi Indonesia.

Pancasila hidup di desa karena desa menjaga keaslian jiwa Indonesia. Kearifan lokal yang diwariskan nenek moyang bukan penghalang keimanan, tetapi jembatan untuk menjadikan agama lebih membumi. Maka, jangan kita mudah terpecah hanya karena berbeda cara. Seperti pesan Ali bin Abi Thalib: “Jangan melihat siapa yang berbicara, tapi lihatlah apa yang dibicarakan.”

Mari kita jaga persatuan dengan kembali pada semangat Pancasila dan agama yang rahmatan lil ‘alamin. Merawat kearifan lokal bukan berarti mundur dari agama, tetapi memperkuat akar agar bangsa ini tidak mudah tumbang oleh perpecahan. Sebab Indonesia yang kuat bukan dibangun dari keseragaman, melainkan dari keberagaman yang dihargai dan dijaga bersama.

Opini: "Pancasila Hidup di Desa: Menjaga Kearifan Lokal, Merawat Persatuan"

Oleh: Salman Al Parisi (Kadus Bagek Kembang)


"Kalau Islam, jangan jadi orang Arab. Kalau Kristen, jangan jadi orang Barat. Kalau Hindu, jangan jadi orang India. Jadilah orang Indonesia yang beragama."
Begitulah pesan luhur Bung Karno, yang menegaskan bahwa menjadi religius tidak berarti kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia. Kita boleh beragama dengan sepenuh keyakinan, tetapi tetap membumi dalam kebudayaan kita sendiri.

Saat ini, kita menyaksikan fenomena yang mengkhawatirkan: banyak yang begitu sibuk memuji golongan sendiri dan merendahkan golongan lain, bahkan sampai mengkafirkan sesama muslim hanya karena perbedaan cara beribadah atau penampilan. Padahal, esensi Islam bukanlah pada pakaian, penampilan luar, atau simbol semata, melainkan pada hati yang bersih dan niat yang lurus.

Nabi Muhammad SAW bersabda:
"Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan hartamu, tetapi Allah melihat hati dan amal perbuatanmu."
(HR. Muslim)

Ini menunjukkan bahwa kemuliaan seseorang di hadapan Allah bukan diukur dari jubah, gamis, surban, atau sejenisnya. Sebab kalau hanya soal pakaian, Abu Jahal dan Abu Lahab pun mengenakan jubah dan surban, namun keduanya justru termasuk musuh terbesar dakwah Islam. Islam tidak identik dengan Arab, dan tidak otomatis menjadi lebih Islami hanya karena meniru bentuk luarnya.

Kita sebagai bangsa Indonesia punya budaya dan kearifan lokal yang tidak kalah luhur. Selama pakaian itu sopan, menutup aurat, dan tidak mengundang fitnah, maka itu sudah mencerminkan akhlak Islam. Bahkan Umar bin Khattab pernah berkata, “Sesungguhnya orang yang paling aku cintai adalah yang ketika dilihat membuatku ingat kepada Allah.” Maka, Islam itu bukan sekadar gaya, tapi pancaran dari akhlak dan adab.

Desa-desa di Indonesia adalah contoh nyata bagaimana nilai-nilai Islam dan Pancasila menyatu dalam kehidupan sehari-hari. Warga desa bergotong royong tanpa memandang mazhab, bertegur sapa dengan ramah, dan menjaga tradisi lokal yang sejalan dengan nilai-nilai Islam dan kemanusiaan. Inilah bukti bahwa Islam Nusantara, yang berpijak pada kearifan lokal, bukanlah bentuk pelemahan agama, tapi justru penguatan akarnya agar tetap relevan di bumi Indonesia.

Pancasila hidup di desa karena desa menjaga keaslian jiwa Indonesia. Kearifan lokal yang diwariskan nenek moyang bukan penghalang keimanan, tetapi jembatan untuk menjadikan agama lebih membumi. Maka, jangan kita mudah terpecah hanya karena berbeda cara. Seperti pesan Ali bin Abi Thalib: “Jangan melihat siapa yang berbicara, tapi lihatlah apa yang dibicarakan.”

Mari kita jaga persatuan dengan kembali pada semangat Pancasila dan agama yang rahmatan lil ‘alamin. Merawat kearifan lokal bukan berarti mundur dari agama, tetapi memperkuat akar agar bangsa ini tidak mudah tumbang oleh perpecahan. Sebab Indonesia yang kuat bukan dibangun dari keseragaman, melainkan dari keberagaman yang dihargai dan dijaga bersama.

Beri Komentar

Desa

3,768

Laki-laki

Laki-laki 3,768 penduduk

3,832

Perempuan

Perempuan 3,832 penduduk

7,600

JUMLAH

0

BELUM MENGISI

7,600

TOTAL

TOTAL 7,600 penduduk

PERKEMBANGAN PENDUDUK

Bulan Ini

Kelahiran

0

Orang

Kematian

0

Orang

Masuk

0

Orang

Pindah

0

Orang

Bulan Lalu

Kelahiran

0

Orang

Kematian

0

Orang

Masuk

0

Orang

Pindah

0

Orang

LAYANAN SURAT PENGANTAR

Hari Ini

1

Surat

Kemarin

2

Surat

Minggu Ini

5

Surat

Bulan Ini

6

Surat

Bulan Lalu

45

Surat

Tahun Ini

608

Surat

Tahun Lalu

547

Surat

Total

2,044

Surat

Layanan
Mandiri

Hubungi Pemerintah Desa untuk mendapatkan PIN

Pemerintah Desa

Kepala Desa

IDRIS

Sekretaris Desa

SALMAN AL PARISI

kaur Perencanaan

ADRIAN JUNIAWARDI A

KAUR KEUANGAN

RINI APRIANI

KASI KESEJAHRERAAN

ERI YUNITA

KASI PEMERINTAHAN

ABD. RAUF

KASI PELAYANAN

CAHAERANI MARDHATILLAH

KEPALA DUSUN SUKAMULIA

RUDIANTO

KEPALA DUSUN BAGEK GAET

AZHAR

KEPALA DUSUN AIK SEPOLONG

HERMAN

KEPALA DUSUN BAGEK LAWANG

SAENUDIN

KEPALA DUSUN GEGURUN LAUK

AMEDAN

KEPALA DUSUN GEGURUN TIMUK

RIAN SUTRISNA

STAFF KAUR TU DAN UMUM

DEDI AHMADI

STAFF KESRA

SRI MULIANI

PEKEMIT

MUHAMMAD RIDWAN

KAUR TATA USAHA DAN UMUM

HERNAWATI

KEPALA DUSUN BAGEK GAET SELATAN

MAHMUR

KEPALA DUSUN DASAN TENGAK

SAHMAL

KEPALA DUSUN GEGURUN

RODI BAMBANG KUSUMA

Menu Kategori
Agenda

Untuk sementara, belum ada agenda yang akan dilaksanakan.

Komentar
Statistik Pengunjung
Hari ini : 172
Kemarin : 66
Total Pengunjung : 32.437
Sistem Operasi : Unknown Platform
IP Address : 216.73.216.108
Browser : Mozilla 5.0
Tema Pro : DeNava v204.15
Menu Kategori
Agenda

Untuk sementara, belum ada agenda yang akan dilaksanakan.

Komentar
Statistik Pengunjung
Hari ini : 172
Kemarin : 66
Total Pengunjung : 32.437
Sistem Operasi : Unknown Platform
IP Address : 216.73.216.108
Browser : Mozilla 5.0
Tema Pro : DeNava v204.15

Transparansi Anggaran

APBDes 2026 Pelaksanaan

APBDes 2026 Pendapatan

APBDes 2026 Pembelanjaan

Pemerintah Desa

IDRIS

Kepala Desa


SALMAN AL PARISI

Sekretaris Desa

ADRIAN JUNIAWARDI A

kaur Perencanaan

RINI APRIANI

KAUR KEUANGAN

ERI YUNITA

KASI KESEJAHRERAAN

ABD. RAUF

KASI PEMERINTAHAN

CAHAERANI MARDHATILLAH

KASI PELAYANAN

RUDIANTO

KEPALA DUSUN SUKAMULIA

AZHAR

KEPALA DUSUN BAGEK GAET

HERMAN

KEPALA DUSUN AIK SEPOLONG

SAENUDIN

KEPALA DUSUN BAGEK LAWANG

AMEDAN

KEPALA DUSUN GEGURUN LAUK

RIAN SUTRISNA

KEPALA DUSUN GEGURUN TIMUK

DEDI AHMADI

STAFF KAUR TU DAN UMUM

SRI MULIANI

STAFF KESRA

MUHAMMAD RIDWAN

PEKEMIT

HERNAWATI

KAUR TATA USAHA DAN UMUM

MAHMUR

KEPALA DUSUN BAGEK GAET SELATAN

SAHMAL

KEPALA DUSUN DASAN TENGAK

RODI BAMBANG KUSUMA

KEPALA DUSUN GEGURUN