Opini: "Pancasila Hidup di Desa: Menjaga Kearifan Lokal, Merawat Persatuan"
Oleh: Salman Al Parisi (Kadus Bagek Kembang)
"Kalau Islam, jangan jadi orang Arab. Kalau Kristen, jangan jadi orang Barat. Kalau Hindu, jangan jadi orang India. Jadilah orang Indonesia yang beragama."
Begitulah pesan luhur Bung Karno, yang menegaskan bahwa menjadi religius tidak berarti kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia. Kita boleh beragama dengan sepenuh keyakinan, tetapi tetap membumi dalam kebudayaan kita sendiri.
Saat ini, kita menyaksikan fenomena yang mengkhawatirkan: banyak yang begitu sibuk memuji golongan sendiri dan merendahkan golongan lain, bahkan sampai mengkafirkan sesama muslim hanya karena perbedaan cara beribadah atau penampilan. Padahal, esensi Islam bukanlah pada pakaian, penampilan luar, atau simbol semata, melainkan pada hati yang bersih dan niat yang lurus.
Nabi Muhammad SAW bersabda:
"Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan hartamu, tetapi Allah melihat hati dan amal perbuatanmu."
(HR. Muslim)
Ini menunjukkan bahwa kemuliaan seseorang di hadapan Allah bukan diukur dari jubah, gamis, surban, atau sejenisnya. Sebab kalau hanya soal pakaian, Abu Jahal dan Abu Lahab pun mengenakan jubah dan surban, namun keduanya justru termasuk musuh terbesar dakwah Islam. Islam tidak identik dengan Arab, dan tidak otomatis menjadi lebih Islami hanya karena meniru bentuk luarnya.
Kita sebagai bangsa Indonesia punya budaya dan kearifan lokal yang tidak kalah luhur. Selama pakaian itu sopan, menutup aurat, dan tidak mengundang fitnah, maka itu sudah mencerminkan akhlak Islam. Bahkan Umar bin Khattab pernah berkata, “Sesungguhnya orang yang paling aku cintai adalah yang ketika dilihat membuatku ingat kepada Allah.” Maka, Islam itu bukan sekadar gaya, tapi pancaran dari akhlak dan adab.
Desa-desa di Indonesia adalah contoh nyata bagaimana nilai-nilai Islam dan Pancasila menyatu dalam kehidupan sehari-hari. Warga desa bergotong royong tanpa memandang mazhab, bertegur sapa dengan ramah, dan menjaga tradisi lokal yang sejalan dengan nilai-nilai Islam dan kemanusiaan. Inilah bukti bahwa Islam Nusantara, yang berpijak pada kearifan lokal, bukanlah bentuk pelemahan agama, tapi justru penguatan akarnya agar tetap relevan di bumi Indonesia.
Pancasila hidup di desa karena desa menjaga keaslian jiwa Indonesia. Kearifan lokal yang diwariskan nenek moyang bukan penghalang keimanan, tetapi jembatan untuk menjadikan agama lebih membumi. Maka, jangan kita mudah terpecah hanya karena berbeda cara. Seperti pesan Ali bin Abi Thalib: “Jangan melihat siapa yang berbicara, tapi lihatlah apa yang dibicarakan.”
Mari kita jaga persatuan dengan kembali pada semangat Pancasila dan agama yang rahmatan lil ‘alamin. Merawat kearifan lokal bukan berarti mundur dari agama, tetapi memperkuat akar agar bangsa ini tidak mudah tumbang oleh perpecahan. Sebab Indonesia yang kuat bukan dibangun dari keseragaman, melainkan dari keberagaman yang dihargai dan dijaga bersama.
Opini: "Pancasila Hidup di Desa: Menjaga Kearifan Lokal, Merawat Persatuan"
Oleh: Salman Al Parisi (Kadus Bagek Kembang)
"Kalau Islam, jangan jadi orang Arab. Kalau Kristen, jangan jadi orang Barat. Kalau Hindu, jangan jadi orang India. Jadilah orang Indonesia yang beragama."
Begitulah pesan luhur Bung Karno, yang menegaskan bahwa menjadi religius tidak berarti kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia. Kita boleh beragama dengan sepenuh keyakinan, tetapi tetap membumi dalam kebudayaan kita sendiri.
Saat ini, kita menyaksikan fenomena yang mengkhawatirkan: banyak yang begitu sibuk memuji golongan sendiri dan merendahkan golongan lain, bahkan sampai mengkafirkan sesama muslim hanya karena perbedaan cara beribadah atau penampilan. Padahal, esensi Islam bukanlah pada pakaian, penampilan luar, atau simbol semata, melainkan pada hati yang bersih dan niat yang lurus.
Nabi Muhammad SAW bersabda:
"Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan hartamu, tetapi Allah melihat hati dan amal perbuatanmu."
(HR. Muslim)
Ini menunjukkan bahwa kemuliaan seseorang di hadapan Allah bukan diukur dari jubah, gamis, surban, atau sejenisnya. Sebab kalau hanya soal pakaian, Abu Jahal dan Abu Lahab pun mengenakan jubah dan surban, namun keduanya justru termasuk musuh terbesar dakwah Islam. Islam tidak identik dengan Arab, dan tidak otomatis menjadi lebih Islami hanya karena meniru bentuk luarnya.
Kita sebagai bangsa Indonesia punya budaya dan kearifan lokal yang tidak kalah luhur. Selama pakaian itu sopan, menutup aurat, dan tidak mengundang fitnah, maka itu sudah mencerminkan akhlak Islam. Bahkan Umar bin Khattab pernah berkata, “Sesungguhnya orang yang paling aku cintai adalah yang ketika dilihat membuatku ingat kepada Allah.” Maka, Islam itu bukan sekadar gaya, tapi pancaran dari akhlak dan adab.
Desa-desa di Indonesia adalah contoh nyata bagaimana nilai-nilai Islam dan Pancasila menyatu dalam kehidupan sehari-hari. Warga desa bergotong royong tanpa memandang mazhab, bertegur sapa dengan ramah, dan menjaga tradisi lokal yang sejalan dengan nilai-nilai Islam dan kemanusiaan. Inilah bukti bahwa Islam Nusantara, yang berpijak pada kearifan lokal, bukanlah bentuk pelemahan agama, tapi justru penguatan akarnya agar tetap relevan di bumi Indonesia.
Pancasila hidup di desa karena desa menjaga keaslian jiwa Indonesia. Kearifan lokal yang diwariskan nenek moyang bukan penghalang keimanan, tetapi jembatan untuk menjadikan agama lebih membumi. Maka, jangan kita mudah terpecah hanya karena berbeda cara. Seperti pesan Ali bin Abi Thalib: “Jangan melihat siapa yang berbicara, tapi lihatlah apa yang dibicarakan.”
Mari kita jaga persatuan dengan kembali pada semangat Pancasila dan agama yang rahmatan lil ‘alamin. Merawat kearifan lokal bukan berarti mundur dari agama, tetapi memperkuat akar agar bangsa ini tidak mudah tumbang oleh perpecahan. Sebab Indonesia yang kuat bukan dibangun dari keseragaman, melainkan dari keberagaman yang dihargai dan dijaga bersama.