Logo Desa

Desa Pohgading Timur

Kabupaten Lombok Timur
Provinsi Nusa Tenggara Barat

Loading

Desa Pohgading Timur

Perayaan

Hari Sumpah Pemuda

  • Hari
  • Jam
  • Menit
  • Detik
Info
Selamat datang di Website Resmi Desa Pohgading Timur Kecamatan Pringgabaya Kabupaten Lombok Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat

Berita Desa

Komentar Terbaru

Kategori

Oleh: Salman Al Parisi

Raja Ampat, gugusan surga tropis yang dikenal karena keanekaragaman hayatinya, kini tengah menghadapi ancaman serius: penambangan. Di balik keindahan karang dan lautnya yang memesona, tersimpan sumber daya alam yang menjadi incaran industri ekstraktif. Namun, apa yang sering dilupakan adalah bahwa eksploitasi ini bukan hanya soal alam, tetapi juga soal luka sosial dan sejarah panjang ketidakadilan yang belum sembuh di Tanah Papua.

Penambangan di wilayah sensitif seperti Raja Ampat bukan hanya soal degradasi lingkungan. Ini adalah babak lanjutan dari pola eksploitatif yang telah lama dirasakan masyarakat. Papua, sebuah wilayah yang kaya akan sumber daya, tetapi miskin akan keadilan distribusi hasilnya. Kegiatan tambang besar yang selama ini berlangsung di Papua, seperti di Timika dan Sorong, belum mampu membawa kesejahteraan nyata bagi rakyat asli. Sebaliknya, mereka kerap menjadi korban marginalisasi, penggusuran, dan kerusakan budaya lokal.

Dengan masuknya izin eksploitasi ke wilayah Raja Ampat, luka lama itu seperti disayat kembali. Masyarakat adat yang hidup selaras dengan alam terancam kehilangan ruang hidupnya. Wilayah yang semestinya dijaga sebagai warisan dunia dan pusat ekowisata berkelanjutan kini digadaikan atas nama "pembangunan".

Pemerintah dan investor sering berdalih bahwa tambang akan membuka lapangan kerja dan membawa "kemajuan". Namun, apakah kita tidak belajar dari pengalaman sebelumnya? Tambang memang menghasilkan angka pertumbuhan ekonomi, tapi seringkali dengan mengorbankan masyarakat lokal, lingkungan, dan stabilitas sosial. Di Papua, kemajuan yang dijanjikan sering berubah menjadi ketegangan, konflik sosial, dan semakin kuatnya rasa ketidakpercayaan terhadap negara.

Lebih dari sekadar lingkungan, eksploitasi di Raja Ampat memperparah konflik identitas dan sejarah ketidakadilan struktural di Papua. Ketika tanah leluhur dianggap sebagai objek ekonomi, bukan sebagai ruang kehidupan yang sakral, maka konflik sosial bukan hanya mungkin, tapi hampir pasti terjadi.

Karena itu, penambangan di Raja Ampat harus dihentikan. Bukan hanya demi menjaga keindahan alam dan keanekaragaman hayatinya, tetapi juga demi menghormati hak-hak masyarakat adat Papua yang selama ini terlalu sering dikorbankan. Yang dibutuhkan Papua hari ini bukan tambang baru, tetapi keadilan, kedaulatan atas tanah, dan pendekatan pembangunan yang berpihak pada manusia, bukan hanya modal.

Sudah saatnya negara berpihak bukan pada eksploitasi, tetapi pada perlindungan. Jika tidak, maka Raja Ampat akan menjadi simbol terbaru dari bagaimana kekayaan alam bisa berubah menjadi luka yang tak kunjung sembuh di tanah Papua.

Wallahu a'lam..

Oleh: Salman Al Parisi

Raja Ampat, gugusan surga tropis yang dikenal karena keanekaragaman hayatinya, kini tengah menghadapi ancaman serius: penambangan. Di balik keindahan karang dan lautnya yang memesona, tersimpan sumber daya alam yang menjadi incaran industri ekstraktif. Namun, apa yang sering dilupakan adalah bahwa eksploitasi ini bukan hanya soal alam, tetapi juga soal luka sosial dan sejarah panjang ketidakadilan yang belum sembuh di Tanah Papua.

Penambangan di wilayah sensitif seperti Raja Ampat bukan hanya soal degradasi lingkungan. Ini adalah babak lanjutan dari pola eksploitatif yang telah lama dirasakan masyarakat. Papua, sebuah wilayah yang kaya akan sumber daya, tetapi miskin akan keadilan distribusi hasilnya. Kegiatan tambang besar yang selama ini berlangsung di Papua, seperti di Timika dan Sorong, belum mampu membawa kesejahteraan nyata bagi rakyat asli. Sebaliknya, mereka kerap menjadi korban marginalisasi, penggusuran, dan kerusakan budaya lokal.

Dengan masuknya izin eksploitasi ke wilayah Raja Ampat, luka lama itu seperti disayat kembali. Masyarakat adat yang hidup selaras dengan alam terancam kehilangan ruang hidupnya. Wilayah yang semestinya dijaga sebagai warisan dunia dan pusat ekowisata berkelanjutan kini digadaikan atas nama "pembangunan".

Pemerintah dan investor sering berdalih bahwa tambang akan membuka lapangan kerja dan membawa "kemajuan". Namun, apakah kita tidak belajar dari pengalaman sebelumnya? Tambang memang menghasilkan angka pertumbuhan ekonomi, tapi seringkali dengan mengorbankan masyarakat lokal, lingkungan, dan stabilitas sosial. Di Papua, kemajuan yang dijanjikan sering berubah menjadi ketegangan, konflik sosial, dan semakin kuatnya rasa ketidakpercayaan terhadap negara.

Lebih dari sekadar lingkungan, eksploitasi di Raja Ampat memperparah konflik identitas dan sejarah ketidakadilan struktural di Papua. Ketika tanah leluhur dianggap sebagai objek ekonomi, bukan sebagai ruang kehidupan yang sakral, maka konflik sosial bukan hanya mungkin, tapi hampir pasti terjadi.

Karena itu, penambangan di Raja Ampat harus dihentikan. Bukan hanya demi menjaga keindahan alam dan keanekaragaman hayatinya, tetapi juga demi menghormati hak-hak masyarakat adat Papua yang selama ini terlalu sering dikorbankan. Yang dibutuhkan Papua hari ini bukan tambang baru, tetapi keadilan, kedaulatan atas tanah, dan pendekatan pembangunan yang berpihak pada manusia, bukan hanya modal.

Sudah saatnya negara berpihak bukan pada eksploitasi, tetapi pada perlindungan. Jika tidak, maka Raja Ampat akan menjadi simbol terbaru dari bagaimana kekayaan alam bisa berubah menjadi luka yang tak kunjung sembuh di tanah Papua.

Wallahu a'lam..

Beri Komentar

Desa

3,768

Laki-laki

Laki-laki 3,768 penduduk

3,832

Perempuan

Perempuan 3,832 penduduk

7,600

JUMLAH

0

BELUM MENGISI

7,600

TOTAL

TOTAL 7,600 penduduk

PERKEMBANGAN PENDUDUK

Bulan Ini

Kelahiran

0

Orang

Kematian

0

Orang

Masuk

0

Orang

Pindah

0

Orang

Bulan Lalu

Kelahiran

0

Orang

Kematian

0

Orang

Masuk

0

Orang

Pindah

0

Orang

LAYANAN SURAT PENGANTAR

Hari Ini

0

Surat

Kemarin

2

Surat

Minggu Ini

4

Surat

Bulan Ini

5

Surat

Bulan Lalu

45

Surat

Tahun Ini

607

Surat

Tahun Lalu

547

Surat

Total

2,043

Surat

Layanan
Mandiri

Hubungi Pemerintah Desa untuk mendapatkan PIN

Pemerintah Desa

Kepala Desa

IDRIS

Sekretaris Desa

SALMAN AL PARISI

kaur Perencanaan

ADRIAN JUNIAWARDI A

KAUR KEUANGAN

RINI APRIANI

KASI KESEJAHRERAAN

ERI YUNITA

KASI PEMERINTAHAN

ABD. RAUF

KASI PELAYANAN

CAHAERANI MARDHATILLAH

KEPALA DUSUN SUKAMULIA

RUDIANTO

KEPALA DUSUN BAGEK GAET

AZHAR

KEPALA DUSUN AIK SEPOLONG

HERMAN

KEPALA DUSUN BAGEK LAWANG

SAENUDIN

KEPALA DUSUN GEGURUN LAUK

AMEDAN

KEPALA DUSUN GEGURUN TIMUK

RIAN SUTRISNA

STAFF KAUR TU DAN UMUM

DEDI AHMADI

STAFF KESRA

SRI MULIANI

PEKEMIT

MUHAMMAD RIDWAN

KAUR TATA USAHA DAN UMUM

HERNAWATI

KEPALA DUSUN BAGEK GAET SELATAN

MAHMUR

KEPALA DUSUN DASAN TENGAK

SAHMAL

KEPALA DUSUN GEGURUN

RODI BAMBANG KUSUMA

Menu Kategori
Agenda

Untuk sementara, belum ada agenda yang akan dilaksanakan.

Komentar
Statistik Pengunjung
Hari ini : 136
Kemarin : 66
Total Pengunjung : 32.401
Sistem Operasi : Unknown Platform
IP Address : 216.73.217.70
Browser : Mozilla 5.0
Tema Pro : DeNava v204.15
Menu Kategori
Agenda

Untuk sementara, belum ada agenda yang akan dilaksanakan.

Komentar
Statistik Pengunjung
Hari ini : 136
Kemarin : 66
Total Pengunjung : 32.401
Sistem Operasi : Unknown Platform
IP Address : 216.73.217.70
Browser : Mozilla 5.0
Tema Pro : DeNava v204.15

Transparansi Anggaran

APBDes 2026 Pelaksanaan

APBDes 2026 Pendapatan

APBDes 2026 Pembelanjaan

Pemerintah Desa

IDRIS

Kepala Desa


SALMAN AL PARISI

Sekretaris Desa

ADRIAN JUNIAWARDI A

kaur Perencanaan

RINI APRIANI

KAUR KEUANGAN

ERI YUNITA

KASI KESEJAHRERAAN

ABD. RAUF

KASI PEMERINTAHAN

CAHAERANI MARDHATILLAH

KASI PELAYANAN

RUDIANTO

KEPALA DUSUN SUKAMULIA

AZHAR

KEPALA DUSUN BAGEK GAET

HERMAN

KEPALA DUSUN AIK SEPOLONG

SAENUDIN

KEPALA DUSUN BAGEK LAWANG

AMEDAN

KEPALA DUSUN GEGURUN LAUK

RIAN SUTRISNA

KEPALA DUSUN GEGURUN TIMUK

DEDI AHMADI

STAFF KAUR TU DAN UMUM

SRI MULIANI

STAFF KESRA

MUHAMMAD RIDWAN

PEKEMIT

HERNAWATI

KAUR TATA USAHA DAN UMUM

MAHMUR

KEPALA DUSUN BAGEK GAET SELATAN

SAHMAL

KEPALA DUSUN DASAN TENGAK

RODI BAMBANG KUSUMA

KEPALA DUSUN GEGURUN