Pada hari Rabu, 28 Mei 2025, Desa Pohgading Timur mendapat kehormatan menerima kunjungan dari para Pengurus Nasional Wahana Visi Indonesia (WVI). Mereka datang bersama jajaran Pengurus Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dalam rangka memperkuat kemitraan dan mendengar langsung cerita inspiratif dari mitra di lapangan.
Rombongan WVI secara khusus mengunjungi rumah Ketua PATBM (Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat) Desa Pohgading Timur, Ustadz Salman Al Parisi. Dalam suasana hangat dan penuh keakraban, para pengurus WVI berdialog langsung dan menanyakan pengalaman beliau dalam mengenal dan bekerja sama dengan WVI.
“Awal saya mengenal Wahana Visi itu tahun 2023,” cerita Ustadz Salman. “Saat itu saya melihat Pak Udin, pendamping WVI di Pohgading Timur, sedang membagikan balon kepada anak-anak dan mengadakan lomba mewarnai untuk tingkat PAUD di kantor desa. Saya penasaran dan bertanya: ini dari mana? Dijawab, dari Wahana Visi Indonesia.”
Sebagai seorang ustadz yang berlatar belakang pendidikan pesantren, ia mengaku sempat ragu ketika mengetahui bahwa WVI adalah lembaga Kristen yang mendukung program pemerintah. “Dalam benak saya, tentu ada kekhawatiran akan adanya pemurtadan secara halus,” ungkapnya.
Namun, semua itu berubah ketika ia mengikuti pelatihan Change of Hope (CoH) dan Pengasuhan Dengan Cinta (PDC) selama tiga hari yang diadakan oleh WVI. “Dari pelatihan itu saya mulai paham bahwa WVI tidak seperti yang saya bayangkan. Mereka sungguh-sungguh hadir untuk mendampingi masyarakat, khususnya anak-anak dan orangtua, tanpa embel-embel tersembunyi.”
Sejak itu, Ustadz Salman menjadi mitra aktif WVI. Ia terus meluangkan waktu untuk menjadi fasilitator Pengasuhan Dengan Cinta di desa-desa dampingan WVI, bahkan hingga ke Kabupaten Lombok Utara. “Saya akui, saya banyak mendapat ilmu dari WVI, baik saat pelatihan di Mataram, di Sembalun, maupun di Jakarta,” tambahnya.
Tak berhenti di situ, Ustadz Salman bersama Forum Anak Desa Pohgading Timur juga telah merencanakan kampanye penting yang akan dilaksanakan pada bulan Juni mendatang. “Kami bersama Forum Anak akan melakukan kampanye 'Pantang Merarik Kodeq',” ujarnya. Kampanye ini akan menyasar sekolah-sekolah tingkat SD, SMP, dan SMA di wilayah Desa Pohgading Timur, dan diharapkan bisa menjangkau sekolah-sekolah di luar desa.
Kampanye ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran anak-anak dan remaja tentang pentingnya menolak praktik pernikahan usia dini. Kegiatan tersebut akan difasilitasi langsung oleh Wahana Visi Indonesia sebagai bentuk dukungan terhadap perlindungan anak dan pencegahan kekerasan berbasis adat.
Kunjungan pada 28 Mei ini menjadi momen penting, tidak hanya sebagai ajang silaturahmi, tetapi juga sebagai wujud apresiasi atas kontribusi para mitra lokal seperti Ustadz Salman. Kisah beliau menunjukkan bagaimana kolaborasi lintas iman dan latar belakang dapat melahirkan perubahan positif demi kesejahteraan anak dan keluarga di desa.
Pada hari Rabu, 28 Mei 2025, Desa Pohgading Timur mendapat kehormatan menerima kunjungan dari para Pengurus Nasional Wahana Visi Indonesia (WVI). Mereka datang bersama jajaran Pengurus Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dalam rangka memperkuat kemitraan dan mendengar langsung cerita inspiratif dari mitra di lapangan.
Rombongan WVI secara khusus mengunjungi rumah Ketua PATBM (Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat) Desa Pohgading Timur, Ustadz Salman Al Parisi. Dalam suasana hangat dan penuh keakraban, para pengurus WVI berdialog langsung dan menanyakan pengalaman beliau dalam mengenal dan bekerja sama dengan WVI.
“Awal saya mengenal Wahana Visi itu tahun 2023,” cerita Ustadz Salman. “Saat itu saya melihat Pak Udin, pendamping WVI di Pohgading Timur, sedang membagikan balon kepada anak-anak dan mengadakan lomba mewarnai untuk tingkat PAUD di kantor desa. Saya penasaran dan bertanya: ini dari mana? Dijawab, dari Wahana Visi Indonesia.”
Sebagai seorang ustadz yang berlatar belakang pendidikan pesantren, ia mengaku sempat ragu ketika mengetahui bahwa WVI adalah lembaga Kristen yang mendukung program pemerintah. “Dalam benak saya, tentu ada kekhawatiran akan adanya pemurtadan secara halus,” ungkapnya.
Namun, semua itu berubah ketika ia mengikuti pelatihan Change of Hope (CoH) dan Pengasuhan Dengan Cinta (PDC) selama tiga hari yang diadakan oleh WVI. “Dari pelatihan itu saya mulai paham bahwa WVI tidak seperti yang saya bayangkan. Mereka sungguh-sungguh hadir untuk mendampingi masyarakat, khususnya anak-anak dan orangtua, tanpa embel-embel tersembunyi.”
Sejak itu, Ustadz Salman menjadi mitra aktif WVI. Ia terus meluangkan waktu untuk menjadi fasilitator Pengasuhan Dengan Cinta di desa-desa dampingan WVI, bahkan hingga ke Kabupaten Lombok Utara. “Saya akui, saya banyak mendapat ilmu dari WVI, baik saat pelatihan di Mataram, di Sembalun, maupun di Jakarta,” tambahnya.
Tak berhenti di situ, Ustadz Salman bersama Forum Anak Desa Pohgading Timur juga telah merencanakan kampanye penting yang akan dilaksanakan pada bulan Juni mendatang. “Kami bersama Forum Anak akan melakukan kampanye 'Pantang Merarik Kodeq',” ujarnya. Kampanye ini akan menyasar sekolah-sekolah tingkat SD, SMP, dan SMA di wilayah Desa Pohgading Timur, dan diharapkan bisa menjangkau sekolah-sekolah di luar desa.
Kampanye ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran anak-anak dan remaja tentang pentingnya menolak praktik pernikahan usia dini. Kegiatan tersebut akan difasilitasi langsung oleh Wahana Visi Indonesia sebagai bentuk dukungan terhadap perlindungan anak dan pencegahan kekerasan berbasis adat.
Kunjungan pada 28 Mei ini menjadi momen penting, tidak hanya sebagai ajang silaturahmi, tetapi juga sebagai wujud apresiasi atas kontribusi para mitra lokal seperti Ustadz Salman. Kisah beliau menunjukkan bagaimana kolaborasi lintas iman dan latar belakang dapat melahirkan perubahan positif demi kesejahteraan anak dan keluarga di desa.